Eloknya Pemandangan Sore

Sore ini (28/3) tidak seperti sore-sore biasanya. Ekskul Fotografi mendapat tugas untuk memotret satu objek bebas dengan menggunakan lensa binokuler. Hal ini merupakan tantangan baru bagi anggota ekskul.

Sore

Marcella Eva Josephine, salah satu siswi ekskul fotografi, memilih objek pemandangan di sore hari. Menurutnya, suasana di sore hari terlihat sangat menarik untuk dijadikan sebuah objek foto. “Suasana di sore hari ini nggak akan terulang dua kali, jadi sayang sekali kalau harus dilewatkan untuk sebuah objek foto,” kata cewek kelas X ini sambil tersenyum. (gep)

Jurnalis : Geia Pratita Adiarti

Fotografer : Marcella Eva Josephine

Percobaan Roket Air

(28/03) Siswa kelas X MIPA 2 tengah melakukan percobaan pada pelajaran Fisika. Mereka diharuskan melakukan percobaan roket air. Di dalam percobaan ini, salah satu siswa akan memompa roket tersebut dan jika tekanan udaranya sudah penuh, roket dapat meluncur.

Percobaan Roket Air

      “Percobaan ini sebenarnya buat latihan soalnya besok kita ada penilaian percobaan roket air. Jadi kita latihan dulu”, ujar Vinda salah satu siswa kelas X MIPA 2 yang melakukan percobaan. Menurutnya, pada awalnya memang terbilang cukup sulit karena roket air yang sering bocor. Namun lama kelamaan, mereka menjadi tahu teknik apa yang dilakukan agar roket air dapat meluncur dengan baik.(nra)

Jurnalis : Namira Rizky Annisa

Fotografer : Gita Sari Agape Soebijakto

Penggolongan Sampah

Sampah adalah masalah serius pada era global warming yang semakin genting. Banyak orang-orang yang kurang mempedulikan sampah, sehingga budaya membuang sampah pada tempatnya mulai ditinggalkan secara perlahan. Dampak yang disebabkan oleh sampah pun tidak main-main dan dapat menyebabkan korban jiwa, contohnya banjir besar yang sering terjadi pada musim hujan. Maka dari itu, budaya membuang sampah pada tempatnya harus diterapkan kembali agar tidak memperparah kondisi lingkungan kita yang sudah rusak.

Sampah

Membuang sampah pun juga harus diperhatikan sesuai golongannya. Banyak organisasi pemerhati lingkungan yang melakukan penyuluhan agar masyarakat dapat meningkatkan awareness mereka terhadap penggolongan jenis sampah. “Penggolongan sampah itu perlu, karena sampah-sampah itu bisa digunakan lagi,” ujar Auliyaur Rohman, X MIPA 4 ketika ditanyai pada Rabu sore (28/3). Keuntungan dari memisahkan sampah sesuai golongannya juga bermacam-macam. Contohnya, sampah kering dapat didaur ulang menjadi barang baru seperti souvenir bahkan kertas, dan sampah basah dapat didaur ulang menjadi pupuk untuk kepentingan pertanian. (tiy)

Jurnalis : Aliffathi Pratia Catalysta

Fotografer : Dhania Tami Wijaya

Mulai Lestarikan Kembali Budaya Jawa

Senin ini (19/3), Smandasa kembali mengadakan apel pagi yang hanya diikuti oleh siswa kelas X dan XI karena kelas XII sedang melaksanakan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN). Apel diadakan di lapangan upacara dengan Bapak Rachmad Hidayat, S.Ag sebagai pembina apelnya. Beliau memberikan cukup banyak nasehat serta pesan untuk siswa kelas X dan XI pada saat penyampaian amanat.

Apel Pagi, 19 - 3 - 2018

Pada apel kali ini Bapak Rachmad kembali mengingatkan tentang pentingnya kedisiplinan, pembangunan akhlak dan karakter. Beliau juga menyampaikan bahwa ‘unggah-ungguh’ serta sikap ‘andhap asor’ diperlukan untuk dapat membangun karakter yang baik bagi setiap siswa. “Alangkah baiknya kalau kita juga melestarikan budaya Jawa dengan menggunakan boso kromo inggil dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu bisa menjadi bentuk pembinaan karakter dan ciri khas dari SMAN 10 Malang,” ujar beliau. Wah, pasti menyenangkan sekali dapat belajar bahasa daerah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari. (gep)

Cegah Kebakaran Sejak Dini

(16/3) SMA Negeri 10 Malang mendapatkan sosialisasi edukasi pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran oleh lembah PPKI (Pencegahan Penanggulangan Kebakaran Indonesia), pemberian materi oleh Bapak Dedy Assegaf bertempat di ruang broadcast sekolah yang dihadiri oleh beberapa perwakilan guru dan staff selama kurang lebih 1 jam saja.

Foto 1

Meski sekolah ini sudah beberapa kali mendapatkan sosialisasi dan pelatihan tentang pemadam kebakaran tentunya ini sangat berguna karena bisa merefresh atau mereview pengetahuan dan pemahaman kita tentang teknik dan cara menanggulangi kebakaran yang bisa jadi terjadi di sekitar kita tanpa diduga-duga. Peserta sosialisasi juga diberikan banyak informasi bagaimana cara aman meletakkan tabung gas, alat apar yang mudah dijangkau, dll.

Foto 2

Tentunya banyak hal baru yang kita dapatkan saat sosialisasi edukasi kali ini, tidak hanya materi di dalam ruangan yang kita terima, praktik langsung dengan APAR (alat pemadam kebakaran ringan) di lapangan pun juga diajarkan, bagaimana cara menggunakan apar dengan baik dan yang lebih penting itu tidak panik saat menghadapi kebakaran, oleh karena itu perlu berlatih dan memahami bahan-bahan yang mudah terbakar. Sesi praktik di lapangan juga diikuti oleh para siswa yang saat itu sedang pelajaran olah raga.

Foto 3

Beberapa orang wajib mencoba menggunakan APAR agar bisa merasakan seberapa kuat tekanan gas atau powder yang disemburkan untuk memadamkan api. Selain menggunakan tabung APAR, kita juga dilatih memadamkan api dengan menggunakan karung goni basah.

USBN – BK

(16/3) Berbeda dengan tahun sebelumnya, pelaksanaan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) tahun ini untuk provinsi Jawa Timur full Berbasis Komputer tiap harinya hanya berlangsung 1 (satu) mata pelajaran saja yang diujikan. Jika tahun-tahun sebelumnya pelaksanaan ujian sekolah paper base maka waktunya hanya berjalan beberapa hari saja karena pembuatan soal-soal ujian dari MKKS (Musyawarah Kerja Sekolah Sekolah) Kota Malang, sedangkan tahun kemarin yakni tahun ajaran 2016/2017 pelaksanaan ujian sekolah sebagian besar menggunakan USBN-BK dan hanya beberapa mata pelajaran saja yang menggunakan paper base seperti mata pelajaran Pendidikan Agama dan PKN (Pendidikan Kewarganegaraan).

Foto 1

Tahun pelajaran ini 2017/2018 berlaku di Provinsi Jawa Timur untuk ujian sekolah semua mata pelajaran yang diujikan menggunakan USBN-BK dan berlangsung dari tanggal 16 Maret hingga 4 April 2018, waktu selama itu karena tiap harinya hanya 1 mata pelajaran saja yang diujikan. Di SMA Negeri 10 Malang sendiri berlangsung 2 (dua) sesi, sesi pertama dimulai pukul 07.30 – 09.30 WIB sedangkan sesi 2 dimulai pukul 10.30 – 12.30 WIB. SMAN 10 Malang menyiapkan 1 proktor, 2 pembantu proktor,  4 ruang ujian, masing-masing ruang ditugaskan 2 guru pengawas ujian, Ruang 1 sampai dengan ruang 2 terdapat 30 siswa peserta ujian, khusus untuk ruang 4 terdapat 20 siswa pada sesi 1 dan 19 siswa pada sesi 2.

Foto 2

 Di SMAN 10 Malang menyertakan 2 jurusan yakni jurusan MIPA dan jurusan IPS, maka bisa dipastikan dalam satu ruang ujian terdapat 2 macam yakni siswa peserta ujian dari jurusan MIPA dan IPS seperti di ruang TI 2 pada sesi 2, selain di ruang itu berjalan normal sesuai dengan jurusannya masing-masing.

Diklat, “Hentakan” Awal Menuju Sukses

Pada hari Sabtu (10/2)  ada yang berbeda di SMAN 10 Malang. Jika biasanya di hari Sabtu diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler, namun hari ini diadakan diklat bagi anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang berjumlah 39 orang. Diklat ini dilaksanakan sebanyak dua hari. Pada diklat ini, terdapat berbagai materi dan praktik dari para pemateri yang tidak hanya berasal dari SMA 10 Malang saja, tapi juga berasal dari luar sekolah.

Materi dari BNN

Salah satunya berasal dari Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dilaksanakan di Laboratorium Bahasa. Pihak BNN tidak hanya memberikan satu materi saja. Materi yang diberikan cukup beragam. Antara lain, kenakalan remaja, bahaya merokok, dan juga narkoba. Setelah itu dilanjut dengan praktik Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang di bimbing oleh Bu Annisa yang juga pembina dari ekstrakurikuler PMR. Praktik ini bertujuan agar para peserta menjadi mengerti dan paham hal-hal apa saja yang harus dilakukan saat berada di lokasi kecelakaan. Lalu dilanjut dengan ishoma. Setelah ishoma, kembali lagi mendapat materi. Namun, bukan dari BNN, akan tetapi dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tentang kenakalan remaja, kehamilan pranikah, dan hiv/aids. Setelah berbagai materi dari BKKBN dan juga BNN, Bu Annisa kembali mengisi dengan melakukan praktik tentang tandu dan luka bakar. Setelah melakukan praktik, para siswa diminta untuk segera tidur.

Materi P3K

Ada hal yang menarik di diklat kali ini, jika biasanya hanya materi dan praktik saja. Namun kali ini, disisipkan outbond di hari kedua dan.diharapkan dengan adanya kegiatan ini, para anggota PMR menjadi akrab satu sama lainnya. “Kalo menurutku dengan adanya kegiatan ini jadi lebih deket sama anggota yang lain. Jadi dapet banyak pengalaman, seru lah pokoknya,” beber Dista, salah satu anggota diklat PMR. Menurutnya dengan adanya kegiatan seperti ini menjadi tau apa artinya kebersamaan antar anggota. Menjadi penolong bagi orang lain itu tidaklah mudah, oleh karena itu mereka sangat serius sangat menerima materi dan saat melakukan praktik. Baginya, hal yang didapat saat diklat sangat berguna dapat dilakukan nya di kehidupan sehari-hari. Contohnya saat melihat teman pingsan. Bagi anak PMR, mereka harus sigap dan mengerti apa yang harus dilakukan. Juga dengan adanya banyak pemateri yang berasal dari lingkup yang berbeda namun sama-sama memberikan ilmu yang tentunya sangat berguna.

“Aku harap dengan adanya kegiatan diklat ini, dengan semakin bertambahnya wawasan dan ilmu baru tentang PMR, ini jadi awal buat semua prestasi,” tambahnya. Ia sangat berharap dapat membanggakan nama sekolah melalui ekstrakulikuler PMR.(nra)