Studi Banding CCE Indonesia ke Amerika Serikat

4 bulan yang lalu kami (2 orang) dan 14 anak lainnya hanyalah anak-anak pemimpi yang memiliki mimpi besar untuk bisa meraih 16 kursi menuju Amelrika Serikat.

Hari itu, Bapak William, Direktur CCE Indonesia datang ke sekolah kami. Beliau menerangkan beberapa hal penting tentang proses seleksi kami. Awal mimpi kami mulai terlihat terang. Sesuai dengan apa yang telah diterangkan oleh Beliau, kami harus mengikuti tahap awal seleksi, yaitu menulis Essay. Essay tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan kepribadian kami, lingkungan kami, masalah atau Isu-isu tentang masalah lingkungan, dan beberapa Brainstorming yang asli dari pemikiran kami sebagai anak remaja di Indonesia.

Setelah kami melakukan tahap pertama tersebut, kami melanjutkannya dengan tahap kedua yaitu tahap wawancara via telepon. Kami diwawancarai seputar hal-hal yang berhubungan dengan essay yang kami tulis. Pengumuman tahap keduapun diumumkan, tidak sedikit teman kami yang gugur sebelum tahap terakhir ini. Tahap terakhir adalah wawancara, sekitar 6 orang dari sekolah kami masing-masing dipanggil untuk wawancara di Hotel Santika (Malang).

2 minggu setelah wawancara tersebut, beberapa nama terpanggil dan merekalah yang akan berangkat untuk meraih mimpi mereka di negeri Paman Sam ini. Ada 18 orang; 8 siswa dari Malang, 8 siswa dari Balikpapan,1 guru dari Malang, dan 1 guru dari Balikpapan.

Kami diharuskan untuk menyanggupi persyaratan yang mereka tujukan kepada kami dan pihak Legacy International yang bekerja sama dengan CCE Indonesia yang akan membiayai semua keperluan kami menuju mimpi kami. Kami dipertemukan pada saat wawancara visa di Surabaya, setelah pertemuan itu kami diharuskan untuk terus menjalin hubungan untuk persiapan menuju Amerika Serikat dan termasuk untuk persiapan performance yang akan kami tampilkan pada malam terakhir di Bedford, Virginia.

2 bulan setelah pengumuman, waktunya kami untuk berangkat menuju tempat Barack Obama memimpin rakyatnya. 3 hari pertama,22 juni hingga 24 Juni kami menjalani Pra Orientasi keberangkatan yang dibina oleh pihak CCE Indonesia, Ibu Nindy dan Bapak Iman. Kami benar-benar ditempa secara mental dan fisik untuk persiapan 3 minggu disana.Tepat tanggal tanggal 24 Juni, jam 16.46 kami sudah berada di pesawat Silk Air menuju Singapura untuk transit. Setelah itu, kami harus terbang lagi selama 6 jam menuju Hongkong dengan pesawat United 628, dan tujuan kami akhirnya tercapai, kami terbang menuju San Fransisco dengan United 725 selama sekitar 12 jam.

Setelah kami sampai di San Fransisico, kami disambut oleh Pihak Legacy International yaitu : Ibu Shanti (Amerika), Ibu Fira (Indonesia), Ibu Dani (Amerika). Kami melakukan banyak hal yang bertemakan “environment” atau lingkungan disana. Hal yang paling mengejutkan menurut saya adalah udara disana sangat dingin padahal kami berada dalam musim panas. Begitu sampai disana kami benar-benar melihat dan merasa orang Indonesia harus bercermin kepada orang Amerika, bukan budayanya melainkan cara dan kebiasaan mereka dalam konteks kepedulian mereka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka, mereka benar-benar bertanggung jawab terhadap apa yang telah mereka lakukan. Salah satu contoh yang sangat bagus adalah cara mereka dalam mengelola sampah, di setiap rumah terkadang juga diharuskan untuk memiliki komposter sendiri agar mereka bisa mengelola sampahnya sendiri. Mereka juga memiliki National Park yang benar-benar termanfaatkan dengan baik dengan teknologi-teknologi super canggih yang mereka ciptakan sendiri.

Bio-Assessment-di-Sungai-Bango-Sawojajar-300x200

Setelah 3 hari di West Coast kami terbang menuju Washington DC, dengan transit ke Chicago terlebih dahulu. Kali ini kami memiliki tema lain yaitu “Governmental Program”, di sini kami benar-benar mengetahui apa saja perbedaan dan persamaan yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia dengan pemerintah Amerika. Hal yang kami petik disini adalah “keterbukaan terhadap public” dan “kekuatan kekuasaan public dalam mengutarakan pendapat”. Pemerintah tidak bisa seenaknya, dan rakyatpun memiliki kekuasaan penuh terhadap “freedom to talk”. Saya memiliki 1 tokoh yang benar-benar saya kagumi karena memiliki prinsip yang kuat sekali dalam berdemokrasi, dia adalah “Conception” wanita asal Spanyol yang telah melakukan protes sejak 30 tahun yang lalu dan tidak pernah meninggalkan tempat dia protes, di depan Gedung putih.

Kami cukup puas dengan pengetahuan baru yang kami dapat, perjalanan kami lanjutkan ke Virginia. 18 orang harus dipisah di 3 kota; Lynchburg, Bedford, dan Roanoke. Audinda tinggal di Lynchburg dengan Host family bernama Naomi, dia baik sekali dengan kami. Sementara Jaya tinggal di Roanoke dengan Host Family bernama Virginia. Pengalaman yang sangat berkesan bisa tinggal dengan keluarga Amerika dan mengetahui kebiasaan dan budaya keluarga Amerika. Setelah 5 hari dengan mereka, kami harus berpisah dan kami harus menjalani summer camp di Global Youth Village di Bedford, Virginia. Bertemu dengan teman-teman baru, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan, selain itu kami juga melakukan projek lingkungan kami selama 12 hari tersebut dan membawanya pulang ke Indonesia.

Kemudian, inilah saatnya untuk kembali ke Indonesia. Berpisah dengan peserta – peserta lain terasa begitu mengharukan karena kami telah selalu bersama selama kurang lebih 1 bulan. Air mata pun tak tertahan lagi untuk tertetes di pipi kami. Tapi ini bukanlah akhir segalanya. Tantangan baru telah di depan mata, yakni menjalankan projek lingkungan yang telah kami rancang di Amerika agar terlaksana di komunitas kami.

4 Bulan kemudian, akan ada 6 siswa dari Amerika Serikat yang akan bekerja sama dengan kami melakukan projek lingkungan kami di Indonesia. Inilah bagian dimana peserta Amerika dapat berbagi sesuatu pada peserta Indonesia. Mereka nantinya juga akan melakukan projek lingkungan yang akan dilaksanakan di komunitas mereka di Amerika.

Terima kasih Legacy International dan CCE International yang telah mewujudkan setitik impian kami. Terima kasih pula untuk Sampoerna Academy yang tak henti – hentinya memacu kami agar semakin dekat untuk menjadi pemimpin yang sukses. Terima kasih pula kepada seluruh pihak yang telah mendukung kelancaran program kami.(au & jaya)

Studi Banding ke Amerika Serikat

Leave a Reply

Your email address will not be published.