Mempersiapkan Diri Jelang USBN dan UNBK dengan Istighosah

(10/03) Hari ini menjadi hari yang cerah untuk melakukan doa bersama di Musholla SMAN 10 Malang, istighosah yang dihadiri oleh orang tua siswa ini bertujuan untuk mendo’akan para siswa kelas XII agar ujian yang akan dihadapinya diberi kemudahan.

Istighosah

Dalam acara ini juga di isi oleh Ustadz dari Pondok Pesantren Darut Tauhid Malang yang mejelaskan tentang pentingnya orang tua dalam mendoakan anaknya setelah sholat. Tidak hanya itu, ustadz tersebut juga memberi siraman rohani yang sangat banyak dan bermanfaat, seperti kita harus selalu tawaqal dan berserah diri kepada Allah SWT.

Tausiah

Seusai doa bersama, para siswa kelas XII melanjutkan kegiatan bimbingan belajar di kelas masing-masing hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Sedangkan orang tua siswa yang hadir melanjutkan acara sosialisasi dari sekolah oleh Ibu Husnul Chotimah dan Pak Nur Ali Akhmad selaku Wakasek. Bidang Kurikulum. Sosialisasi tersebut berkenaan tentang segala informasi USBN dan UNBK baik itu tentang jadwal ujian hingga informasi para lulusan tahun sebelumnya yang diterima di Perguruan Tinggi maupun sekolah kedinasan. Sosialisasi berjalan selama kurang lebih 1 jam dan berakhir pada pukul 08.30 WIB.

Sambutan Ibu Kepala Sekolah Dr. Husnul Chotimah, M.Pd

Semoga doa bersama kali ini membawa berkah dan doa kita semua didengar langsung oleh Allah. Semoga kelas XII yang akan mengikuti ujian diberi kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan setiap soal. Amin.

Upacara Bendera : Dalam Suasana Berkabung

(5/3) Upacara bendera yang dilaksanakan SMA Negeri 10 Malang pagi ini dalam suasana berkabung, sekolah ini telah kehilangan salah satu siswa terbaiknya, yakni M. Ramadhani Bagaskara Putra yang mengalami musibah kecelakaan pada hari Sabtu (3/3) kemarin.

Meski suasana berkabung, upacara bendera tetap dilaksanakan dengan hidmat. Bapak Utomo sebagai Pembina Upacara mengetengahkan tema tentang kedisiplinan, SMAN 10 Malang tak henti-hentinya mengangkat tema ini, karena kedisiplinan adalah hal yang sangat penting dalam proses pendidikan di sekolah. Sebelum mengulas kedisiplinan, Pak Utomo mengajak untuk berinstropeksi diri terlebih dahulu, disiplin itu memang mudah untuk diucapkan akan tetapi sangat sulit untuk dilakukan.

Upacara bendera

Ada 3 aspek kehidupan yang berkenaan dengan kedisiplinan yaitu Waktu, Ibadah, dan Belajar. Waktu, sebagai siswa harus bisa mengatur waktu dengan sangat baik, dipergunakan untuk kegiatan yang positif, mengerjakan sesuatu harus efektif dan itu benar-benar ditanamkan dalam diri masing-masing. Ibadah, disiplin yang berkaitan dengan ibadah adalah harus bisa menata hati, jika ibadahnya bagus maka itu bagian dari cerminan perilaku diri-sendiri. Dengan ibadah harus bisa menempatkan rasa atau hawa nafsu dengan tepat. Belajar, sebagai pelajar maka tugasnya adalah belajar, belajar berpikir logis, belajar sesuai dengan tuntutan tujuan pendidikan yang ada di SMAN 10 Malang, sebagai pelajar harus bisa menata logika dikarenakan para pelajar jaman now banyak sekali terkontaminasi teknologi yang sulit untuk dikendalikan perkembangannya.

Selain itu Pak Utomo mengingatkan kepada seluruh siswa agar santun berkendara di jalan, karena jalan itu milik umum, kendaraan bermotor adalah bagian dari teknologi dan fasilitas, oleh karena itu gunakanlah teknologi dengan sewajarnya untuk bisa memudahkan kita sebagai penggunanya.

Pada akhir sambutannya, Pak Utomo mengajak seluruh peserta upacara mendoakan untuk M. Ramadhani Bagaskara Putra (alm) semoga segala amal ibadahnya diterima Allah SWT. Amiinn.

Mengenal “Yukata” Baju Budaya Jepang

Hari Jum’at (23/02) ada yang membuat para guru sangat antusias datang menuju Laboratorium Fisika SMAN 10 Malang. Di tempat tersebut para guru bergantian mencoba pakaian khas negara Jepang atau yang disebut juga dengan Yukata dalam rangka pengenalan budaya Jepang. Yukata sendiri adalah pakaian khas Jepang yang biasa digunakan masyarakat di negara tersebut ketika musim panas.

Belajar Memakai Yukata

Antusias para guru sangat terlihat. Dengan semangat, para guru mencoba mengenakan pakaian Yukata yang disediakan oleh SMAN 10 Malang dan Japan Foundation. Manami Sensei selaku Guru pendatang dari Jepang memberikan contoh bagaimana cara menggunakan Yukata, dan Dhevi Sensei yang juga Guru Bahasa Jepang SMAN 10 Malang ikut membantu para guru dalam menggunakan pakaian khas Negeri Sakura itu. Mengenakan baju tersebut bukanlah hal yang mudah, karena ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Dimulai dari cara mengenakan baju dan cara mengikat tali yang berada di pinggang atau yang disebut juga Obi. Acara tersebut dimulai pada pukul 11.00 hingga 11.30 WIB.

Foto Bersama

Banyak respon positif yang diberikan dari para guru seusai kegiatan tersebut. “Senang sekali karena ini bukan baju nasional kita, ini adalah baju nasional negara lain” ujar Ibu Anis, Guru Bahasa Inggris di SMAN 10 Malang. “Unik, ini budaya asing dan ini juga termasuk budaya ketimuran, untuk ibu-ibu bagus karena baju ini tidak terlalu terbuka” ujar Ibu Asna usai mengenakan Yukata. Setelah menggunakan Yukata para guru berfoto bersama sebagai kenang-kenangan mereka dalam mengenakan pakaian Yukata. (aka)

Pengenalan Siswa Terhadap Budaya Jepang

Pada hari Kamis, (21/02) ada yang berbeda pada saat jam pelajaran Bahasa Jepang. Jika biasanya para siswa akan duduk di kelas sembari menulis huruf-huruf Jepang, namun kali ini suasana tampak lebih menarik. Materi Bahasa Jepang kali ini tentang pengenalan budaya Jepang yaitu pakaian tradisionalnya yangt bernama Yukata. Yukata sendiri adalah pakaian tradisional Jepang yang akan dipakai pada saat musim panas dan juga pada perayaan festival yang lebih dikenal dengan nama Bunkasai.

Belajar Yukata

Para siswa yang mengikuti kegiatan ini diantaranya siswa kelas X Bahasa dan kelas XI, karena mereka mendapatkan materi pelajaran Bahasa Jepang. Sedangkan di kelas lain mendapatkan materi Bahasa Mandarin dan juga Bahasa Jerman. Kegiatan ini diadakan di Ruang Serbaguna SMAN 10 Malang. Pada awal pembelajaran, Manami Sensei selaku Guru Native yang berasal dari Jepang menjelaskan tentang bagaimana cara memakai Yukata. Setelah selesai menjelaskan, para siswa diminta untuk mencoba memakai Yukata satu persatu.

Belajar Bersama

“Rasanya asik aja gitu, kan juga baru pertama kali pakai Yukata,” ujar Shelya, siswi kelas X Bahasa. Baginya, meskipun terlihat mudah dan simpel, tetapi nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Jika salah pada saat memakai Yukata ini, juga menimbulkan arti yang berbeda. Sebagai contoh jika memasukkan pada lengan yang sisi kiri dahulu lalu dilanjutkan sisi kanan itu berarti sama saja memakai Yukata pada saat menghadiri upacara kematian. Sehingga para siswa lebih hati-hati saat mencoba memakainya.

Yukata

Setelah selesai belajar mengenakan Yukata, para siswa berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Meskipun cara memakainya tidak mudah, tetapi hal ini tentunya akan sangat berkesan bagi siswa dan lebih mengenal budaya Jepang. Wawasan mereka tentang budaya Jepang juga pastinya akan bertambah luas.(nra)

“Genjot” Terus Kedisiplinan Siswa

(19/2) Agenda senin pagi ini adalah sekolah melaksanakan kegiatan Apel Pagi yang diikuti oleh seluruh siswa dari Kelas X sampai kelas XII, bapak/ibu guru juga hadir di barisan tersendiri. Ibu Kepala Sekolah Dr. Husnul Chotimah, M.Pd dalam sambutannya menekankan tentang peningkatan kedisipilinan siswa dan seluruh warga sekolah.

Apel Pagi

Kedisiplinan penting artinya untuk mensukseskan semua program sekolah yang telah disepakati bersama, lebih-lebih sebentar lagi semua siswa kelas XII akan mengikuti USBN dan UNBK. Diakhir sambutan, beliau mendoakan semoga para siswa kelas XII sukses mengikuti dua ujian tersebut.

Imunisasi Difteri

Hari Senin (12/2) para siswa SMAN 10 Malang melakukan imunisasi difteri dari Puskesmas Gribig dan petugas dari Rumah Sakit Islam Aisyiyah Kota Malang. Imunisasi ini dimulai pada pukul 08.00 dan diawali kelas X, lalu dilanjutkan dengan kelas XI dan yang terakhir kelas XII. Tempat pelaksanaan imunisasi ini berada di Gedung Serbaguna SMAN 10 Malang. Imunisasi ini dilakukan karena merupakan cara yang paling ampuh dan efektif untuk mencegah dan menanggulangi wabah penyakit difteri. Penyakit ini termasuk dalam penyakit yang cepat menyebar dan mewabah karena sifatnya yang mudah menular.

Foto 1

Respon yang beragam datang dari siswa mengenai kegiatan imunisasi ini. Ada yang merasa biasa saja setelah diimunisasi, namun juga ada yang merasakan takut saat melakukan imunisasi. “Aku takutnya bukan karena suntik, aku cuman takut kalau nantinya obatnya nggak cocok sama tubuhku, tapi sejauh ini aku baik-baik aja,” ujar Letitia, salah satu siswa X IPS 3. Pada awalnya dia  takut saat akan melakukan imunisasi namun setelahnya ia lega karena ternyata obat yan diberikan cocok dengan tubuhnya.

Foto 2

Namun pendapat yang berbeda juga dilontarkan oleh Reynold dari X IPS 4, menurutnya dengan adanya kegiatan imunisasi, kita menjadi lebih terhindar dari virus. Jika ditanya mengenai efek yang ditimbulkan dari imunisasi ini, sejauh ini hanya efek biasa saja seperti pegal. “Kalau menurutku, efek kayak gitu itu sudah biasa dialamin kalau habis di suntik. Jadi aku santai aja,” katanya sambil tersenyum. Jika dilihat dari respon yang beragam tersebut, kegiatan ini tetap saja memiliki dampak positif bagi siswa. Selain dapat mencegah menularnya penyakit difteri ini, kegiatan ini juga dapat meningkatkan sistem imun di dalam tubuh. Dengan kata lain, jika sudah di imunisasi maka menjadi kebal terhadap penyakit difteri.(nra)

Suntikan Semangat Untuk SMANDASA

Senin pagi (12/2), seluruh siswa kelas X dan XI dihimbau untuk berbaris di lapangan karena apel akan dilaksanakan. Apel dilaksanakan pada pukul 06.45. Kelas XII tidak dapat mengikuti apel pagi ini karena mereka melaksanakan Try Out UN yang diadakan oleh Radar Malang.

Apel Pagi

Pembina apel hari ini adalah Pak Yunus, salah satu guru matematika sekaligus tim tatib di SMAN 10 Malang. Beliau menyampaikan beberapa informasi yang penting mengenai peraturan yang berlaku dan wajib dipatuhi oleh seluruh siswa, tak terkecuali kelas XII, yaitu perihal gerbang sekolah yang akan ditutup pada pukul 06.30 tepat setiap harinya. Jika ada siswa datang lebih dari jam yang telah ditentukan, maka tim tatib sekolah yang berjaga di pintu gerbang sekolah akan mencatat nama siswa tersebut ke dalam buku tatib.

Selain itu, Pak Yunus juga menyampaikan bahwa hari ini akan diadakan imunisasi bagi seluruh siswa, baik kelas X, XI, maupun XII yaitu Imunisasi Difteri. Setelah imunisasi selesai, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan seperti biasa. Pada penghujung apel, Pak Yunus memberikan ‘wejangan’ kepada siswa agar setiap siswa memiliki semangat. “Kata kuncinya adalah semangat, karena semangat itulah inti dari kehidupan itu sendiri,” tutup beliau. (gep)