Cegah Kebakaran Sejak Dini

(16/3) SMA Negeri 10 Malang mendapatkan sosialisasi edukasi pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran oleh lembah PPKI (Pencegahan Penanggulangan Kebakaran Indonesia), pemberian materi oleh Bapak Dedy Assegaf bertempat di ruang broadcast sekolah yang dihadiri oleh beberapa perwakilan guru dan staff selama kurang lebih 1 jam saja.

Foto 1

Meski sekolah ini sudah beberapa kali mendapatkan sosialisasi dan pelatihan tentang pemadam kebakaran tentunya ini sangat berguna karena bisa merefresh atau mereview pengetahuan dan pemahaman kita tentang teknik dan cara menanggulangi kebakaran yang bisa jadi terjadi di sekitar kita tanpa diduga-duga. Peserta sosialisasi juga diberikan banyak informasi bagaimana cara aman meletakkan tabung gas, alat apar yang mudah dijangkau, dll.

Foto 2

Tentunya banyak hal baru yang kita dapatkan saat sosialisasi edukasi kali ini, tidak hanya materi di dalam ruangan yang kita terima, praktik langsung dengan APAR (alat pemadam kebakaran ringan) di lapangan pun juga diajarkan, bagaimana cara menggunakan apar dengan baik dan yang lebih penting itu tidak panik saat menghadapi kebakaran, oleh karena itu perlu berlatih dan memahami bahan-bahan yang mudah terbakar. Sesi praktik di lapangan juga diikuti oleh para siswa yang saat itu sedang pelajaran olah raga.

Foto 3

Beberapa orang wajib mencoba menggunakan APAR agar bisa merasakan seberapa kuat tekanan gas atau powder yang disemburkan untuk memadamkan api. Selain menggunakan tabung APAR, kita juga dilatih memadamkan api dengan menggunakan karung goni basah.

USBN – BK

(16/3) Berbeda dengan tahun sebelumnya, pelaksanaan USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) tahun ini untuk provinsi Jawa Timur full Berbasis Komputer tiap harinya hanya berlangsung 1 (satu) mata pelajaran saja yang diujikan. Jika tahun-tahun sebelumnya pelaksanaan ujian sekolah paper base maka waktunya hanya berjalan beberapa hari saja karena pembuatan soal-soal ujian dari MKKS (Musyawarah Kerja Sekolah Sekolah) Kota Malang, sedangkan tahun kemarin yakni tahun ajaran 2016/2017 pelaksanaan ujian sekolah sebagian besar menggunakan USBN-BK dan hanya beberapa mata pelajaran saja yang menggunakan paper base seperti mata pelajaran Pendidikan Agama dan PKN (Pendidikan Kewarganegaraan).

Foto 1

Tahun pelajaran ini 2017/2018 berlaku di Provinsi Jawa Timur untuk ujian sekolah semua mata pelajaran yang diujikan menggunakan USBN-BK dan berlangsung dari tanggal 16 Maret hingga 4 April 2018, waktu selama itu karena tiap harinya hanya 1 mata pelajaran saja yang diujikan. Di SMA Negeri 10 Malang sendiri berlangsung 2 (dua) sesi, sesi pertama dimulai pukul 07.30 – 09.30 WIB sedangkan sesi 2 dimulai pukul 10.30 – 12.30 WIB. SMAN 10 Malang menyiapkan 1 proktor, 2 pembantu proktor,  4 ruang ujian, masing-masing ruang ditugaskan 2 guru pengawas ujian, Ruang 1 sampai dengan ruang 2 terdapat 30 siswa peserta ujian, khusus untuk ruang 4 terdapat 20 siswa pada sesi 1 dan 19 siswa pada sesi 2.

Foto 2

 Di SMAN 10 Malang menyertakan 2 jurusan yakni jurusan MIPA dan jurusan IPS, maka bisa dipastikan dalam satu ruang ujian terdapat 2 macam yakni siswa peserta ujian dari jurusan MIPA dan IPS seperti di ruang TI 2 pada sesi 2, selain di ruang itu berjalan normal sesuai dengan jurusannya masing-masing.

Diklat, “Hentakan” Awal Menuju Sukses

Pada hari Sabtu (10/2)  ada yang berbeda di SMAN 10 Malang. Jika biasanya di hari Sabtu diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler, namun hari ini diadakan diklat bagi anggota Palang Merah Remaja (PMR) yang berjumlah 39 orang. Diklat ini dilaksanakan sebanyak dua hari. Pada diklat ini, terdapat berbagai materi dan praktik dari para pemateri yang tidak hanya berasal dari SMA 10 Malang saja, tapi juga berasal dari luar sekolah.

Materi dari BNN

Salah satunya berasal dari Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dilaksanakan di Laboratorium Bahasa. Pihak BNN tidak hanya memberikan satu materi saja. Materi yang diberikan cukup beragam. Antara lain, kenakalan remaja, bahaya merokok, dan juga narkoba. Setelah itu dilanjut dengan praktik Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang di bimbing oleh Bu Annisa yang juga pembina dari ekstrakurikuler PMR. Praktik ini bertujuan agar para peserta menjadi mengerti dan paham hal-hal apa saja yang harus dilakukan saat berada di lokasi kecelakaan. Lalu dilanjut dengan ishoma. Setelah ishoma, kembali lagi mendapat materi. Namun, bukan dari BNN, akan tetapi dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tentang kenakalan remaja, kehamilan pranikah, dan hiv/aids. Setelah berbagai materi dari BKKBN dan juga BNN, Bu Annisa kembali mengisi dengan melakukan praktik tentang tandu dan luka bakar. Setelah melakukan praktik, para siswa diminta untuk segera tidur.

Materi P3K

Ada hal yang menarik di diklat kali ini, jika biasanya hanya materi dan praktik saja. Namun kali ini, disisipkan outbond di hari kedua dan.diharapkan dengan adanya kegiatan ini, para anggota PMR menjadi akrab satu sama lainnya. “Kalo menurutku dengan adanya kegiatan ini jadi lebih deket sama anggota yang lain. Jadi dapet banyak pengalaman, seru lah pokoknya,” beber Dista, salah satu anggota diklat PMR. Menurutnya dengan adanya kegiatan seperti ini menjadi tau apa artinya kebersamaan antar anggota. Menjadi penolong bagi orang lain itu tidaklah mudah, oleh karena itu mereka sangat serius sangat menerima materi dan saat melakukan praktik. Baginya, hal yang didapat saat diklat sangat berguna dapat dilakukan nya di kehidupan sehari-hari. Contohnya saat melihat teman pingsan. Bagi anak PMR, mereka harus sigap dan mengerti apa yang harus dilakukan. Juga dengan adanya banyak pemateri yang berasal dari lingkup yang berbeda namun sama-sama memberikan ilmu yang tentunya sangat berguna.

“Aku harap dengan adanya kegiatan diklat ini, dengan semakin bertambahnya wawasan dan ilmu baru tentang PMR, ini jadi awal buat semua prestasi,” tambahnya. Ia sangat berharap dapat membanggakan nama sekolah melalui ekstrakulikuler PMR.(nra)

Mempersiapkan Diri Jelang USBN dan UNBK dengan Istighosah

(10/03) Hari ini menjadi hari yang cerah untuk melakukan doa bersama di Musholla SMAN 10 Malang, istighosah yang dihadiri oleh orang tua siswa ini bertujuan untuk mendo’akan para siswa kelas XII agar ujian yang akan dihadapinya diberi kemudahan.

Istighosah

Dalam acara ini juga di isi oleh Ustadz dari Pondok Pesantren Darut Tauhid Malang yang mejelaskan tentang pentingnya orang tua dalam mendoakan anaknya setelah sholat. Tidak hanya itu, ustadz tersebut juga memberi siraman rohani yang sangat banyak dan bermanfaat, seperti kita harus selalu tawaqal dan berserah diri kepada Allah SWT.

Tausiah

Seusai doa bersama, para siswa kelas XII melanjutkan kegiatan bimbingan belajar di kelas masing-masing hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Sedangkan orang tua siswa yang hadir melanjutkan acara sosialisasi dari sekolah oleh Ibu Husnul Chotimah dan Pak Nur Ali Akhmad selaku Wakasek. Bidang Kurikulum. Sosialisasi tersebut berkenaan tentang segala informasi USBN dan UNBK baik itu tentang jadwal ujian hingga informasi para lulusan tahun sebelumnya yang diterima di Perguruan Tinggi maupun sekolah kedinasan. Sosialisasi berjalan selama kurang lebih 1 jam dan berakhir pada pukul 08.30 WIB.

Sambutan Ibu Kepala Sekolah Dr. Husnul Chotimah, M.Pd

Semoga doa bersama kali ini membawa berkah dan doa kita semua didengar langsung oleh Allah. Semoga kelas XII yang akan mengikuti ujian diberi kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan setiap soal. Amin.

Upacara Bendera : Dalam Suasana Berkabung

(5/3) Upacara bendera yang dilaksanakan SMA Negeri 10 Malang pagi ini dalam suasana berkabung, sekolah ini telah kehilangan salah satu siswa terbaiknya, yakni M. Ramadhani Bagaskara Putra yang mengalami musibah kecelakaan pada hari Sabtu (3/3) kemarin.

Meski suasana berkabung, upacara bendera tetap dilaksanakan dengan hidmat. Bapak Utomo sebagai Pembina Upacara mengetengahkan tema tentang kedisiplinan, SMAN 10 Malang tak henti-hentinya mengangkat tema ini, karena kedisiplinan adalah hal yang sangat penting dalam proses pendidikan di sekolah. Sebelum mengulas kedisiplinan, Pak Utomo mengajak untuk berinstropeksi diri terlebih dahulu, disiplin itu memang mudah untuk diucapkan akan tetapi sangat sulit untuk dilakukan.

Upacara bendera

Ada 3 aspek kehidupan yang berkenaan dengan kedisiplinan yaitu Waktu, Ibadah, dan Belajar. Waktu, sebagai siswa harus bisa mengatur waktu dengan sangat baik, dipergunakan untuk kegiatan yang positif, mengerjakan sesuatu harus efektif dan itu benar-benar ditanamkan dalam diri masing-masing. Ibadah, disiplin yang berkaitan dengan ibadah adalah harus bisa menata hati, jika ibadahnya bagus maka itu bagian dari cerminan perilaku diri-sendiri. Dengan ibadah harus bisa menempatkan rasa atau hawa nafsu dengan tepat. Belajar, sebagai pelajar maka tugasnya adalah belajar, belajar berpikir logis, belajar sesuai dengan tuntutan tujuan pendidikan yang ada di SMAN 10 Malang, sebagai pelajar harus bisa menata logika dikarenakan para pelajar jaman now banyak sekali terkontaminasi teknologi yang sulit untuk dikendalikan perkembangannya.

Selain itu Pak Utomo mengingatkan kepada seluruh siswa agar santun berkendara di jalan, karena jalan itu milik umum, kendaraan bermotor adalah bagian dari teknologi dan fasilitas, oleh karena itu gunakanlah teknologi dengan sewajarnya untuk bisa memudahkan kita sebagai penggunanya.

Pada akhir sambutannya, Pak Utomo mengajak seluruh peserta upacara mendoakan untuk M. Ramadhani Bagaskara Putra (alm) semoga segala amal ibadahnya diterima Allah SWT. Amiinn.

Mengenal “Yukata” Baju Budaya Jepang

Hari Jum’at (23/02) ada yang membuat para guru sangat antusias datang menuju Laboratorium Fisika SMAN 10 Malang. Di tempat tersebut para guru bergantian mencoba pakaian khas negara Jepang atau yang disebut juga dengan Yukata dalam rangka pengenalan budaya Jepang. Yukata sendiri adalah pakaian khas Jepang yang biasa digunakan masyarakat di negara tersebut ketika musim panas.

Belajar Memakai Yukata

Antusias para guru sangat terlihat. Dengan semangat, para guru mencoba mengenakan pakaian Yukata yang disediakan oleh SMAN 10 Malang dan Japan Foundation. Manami Sensei selaku Guru pendatang dari Jepang memberikan contoh bagaimana cara menggunakan Yukata, dan Dhevi Sensei yang juga Guru Bahasa Jepang SMAN 10 Malang ikut membantu para guru dalam menggunakan pakaian khas Negeri Sakura itu. Mengenakan baju tersebut bukanlah hal yang mudah, karena ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. Dimulai dari cara mengenakan baju dan cara mengikat tali yang berada di pinggang atau yang disebut juga Obi. Acara tersebut dimulai pada pukul 11.00 hingga 11.30 WIB.

Foto Bersama

Banyak respon positif yang diberikan dari para guru seusai kegiatan tersebut. “Senang sekali karena ini bukan baju nasional kita, ini adalah baju nasional negara lain” ujar Ibu Anis, Guru Bahasa Inggris di SMAN 10 Malang. “Unik, ini budaya asing dan ini juga termasuk budaya ketimuran, untuk ibu-ibu bagus karena baju ini tidak terlalu terbuka” ujar Ibu Asna usai mengenakan Yukata. Setelah menggunakan Yukata para guru berfoto bersama sebagai kenang-kenangan mereka dalam mengenakan pakaian Yukata. (aka)

Pengenalan Siswa Terhadap Budaya Jepang

Pada hari Kamis, (21/02) ada yang berbeda pada saat jam pelajaran Bahasa Jepang. Jika biasanya para siswa akan duduk di kelas sembari menulis huruf-huruf Jepang, namun kali ini suasana tampak lebih menarik. Materi Bahasa Jepang kali ini tentang pengenalan budaya Jepang yaitu pakaian tradisionalnya yangt bernama Yukata. Yukata sendiri adalah pakaian tradisional Jepang yang akan dipakai pada saat musim panas dan juga pada perayaan festival yang lebih dikenal dengan nama Bunkasai.

Belajar Yukata

Para siswa yang mengikuti kegiatan ini diantaranya siswa kelas X Bahasa dan kelas XI, karena mereka mendapatkan materi pelajaran Bahasa Jepang. Sedangkan di kelas lain mendapatkan materi Bahasa Mandarin dan juga Bahasa Jerman. Kegiatan ini diadakan di Ruang Serbaguna SMAN 10 Malang. Pada awal pembelajaran, Manami Sensei selaku Guru Native yang berasal dari Jepang menjelaskan tentang bagaimana cara memakai Yukata. Setelah selesai menjelaskan, para siswa diminta untuk mencoba memakai Yukata satu persatu.

Belajar Bersama

“Rasanya asik aja gitu, kan juga baru pertama kali pakai Yukata,” ujar Shelya, siswi kelas X Bahasa. Baginya, meskipun terlihat mudah dan simpel, tetapi nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Jika salah pada saat memakai Yukata ini, juga menimbulkan arti yang berbeda. Sebagai contoh jika memasukkan pada lengan yang sisi kiri dahulu lalu dilanjutkan sisi kanan itu berarti sama saja memakai Yukata pada saat menghadiri upacara kematian. Sehingga para siswa lebih hati-hati saat mencoba memakainya.

Yukata

Setelah selesai belajar mengenakan Yukata, para siswa berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Meskipun cara memakainya tidak mudah, tetapi hal ini tentunya akan sangat berkesan bagi siswa dan lebih mengenal budaya Jepang. Wawasan mereka tentang budaya Jepang juga pastinya akan bertambah luas.(nra)