Juara 2 News Anchor Tingkat Jatim

Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan dan Pers Nasional, UKM AKTUAL Universitas Wijaya Kusuma Surabaya menyelenggarakan Lomba News Anchor se-Jatim. Lomba yang diselenggarakan secara online dengan upload video ke IGTV akun instagram peserta masing-masing. Dari SMA Negeri 10 Malang terdapat 3 siswi yang berpartisipasi yaitu Diva Thieva Chova, Nathania Michelle Sahertian, dan Kania Talitha Salsabila Shofyudin. Walaupun waktu pendaftaran sampai penilaian tergolong singkat, mereka tetap berjuang dan berdoa untuk menghasilkan yang terbaik.

Lomba yang diikuti berbagai SMA di Jatim ini memuat tema “Remaja Milenial Bebas Bekarya”. Peserta bebas memilih tema yang akan diupload di IGTV. Mereka memperebutkan juara 1 dan juara 2. Salah satu News Anchor dari JTV yaitu Deasy Denovi menjadi juri dari lomba ini. Selain menentukan pemenang, juri juga memberi penilaian langsung pada setiap peserta melalui zoom.

Hasil pengumuman yang diselenggarakan pada 8 Mei 2021 via zoom ini, dari berbagai SMA se-Jatim, salah satu siswi dari SMA Negeri 10 Malang yaitu Diva Thieva Chova berhasil meraih juara 2 lomba News Anchor se-Jatim. Hal ini dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi SMA Negeri 10 Malang untuk terus belajar dan mempunyai keinginan mencoba hal baru. (red)

XII MIPA 1: Berbagi Rezeki di Bulan Ramadhan

Berbagi dapat menumbuhkan jiwa kemanusiaan dalam diri manusia. Sebagai realisasi dari sikap peduli terhadap sesama. Siswa XII MIPA 1, SMA Negeri 10 Malang menggelar kegiatan bakti sosial yang bertemakan “Ya… Ramadhan Berkah Bahagia”. Kegiatan ini dilaksanakan dua kali pada tanggal 27 April 2021 di lingkungan Yayasan Peduli Kasih Kisah Nyata dan Jeritan Hati (KNDJH). Kedua pada tanggal 2 Mei 2021 di Panti Asuhan Darul Jundi dan Panti Asuhan Yasibu. Tempat tersebut dipilih sebagai rekomendasi dari wali kelas XII MIPA 1 dan dibilang sangat membutuhkan bantuan, selain itu adanya panti jompo sekalian untuk menjenguk orang-orang yang sudah sepuh.

Bantuan yang disalurkan berupa sembako (beras, gula, minyak goreng), perlengkapan mandi (sabun, shampoo, detergen) dan juga baju-baju masih layak pakai. Kegiatan ini dikoordinasi oleh Rachmita Aulia dan Najah Naura, serta diikuti oleh sebagian siswa XII MIPA 1, wali kelas dan perwakilan wali murid. Harapan dari dilakukan kegiatan Bakti Sosial ini bisa membantu untuk mencukupi kebutuhan dihari-hari kedepannya.

“Kegiatan bakti sosial ini mengajarkan kita untuk saling peduli, mewujudkan rasa cinta kasih, dan saling menolong bagi mereka yg membutuhkan uluran tangan.” ujar Rizkia Mutiara Rani, siswa XII MIPA 1. Kita dilahirkan sebagai manusia, manusia yang memerlukan orang lain untuk hidup dan indahnya berbagi kepada sesama untuk mempererat tali persaudaraan dan membantu saudara kita. (gya)

Serentak Bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar

(3/5) Upacara bendera Hari Pendidikan Nasional di SMAN 10 Malang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 3 Mei 2021 yang diikuti oleh seluruh Guru dan Staff. Ibu Dr. Husnul Chotimah, M.Pd selaku Kepala Sekolah bertindak sebagai Pembina Upacara, dikarenakan masih dalam masa pandemi Covid-19 upacara yang digelar ini tidak mengikutsertakan seluruh siswa, hanya saja sebagian kecil dari Tim Paski yang bertugas. Jalannya upacara dan seluruh peserta upacara tetap mengedankan protokol kesehatan dengan baris berjarak dan mengenakan masker.

Meski upacara bendera dalam rangka Hardiknas ini digelar di masa keprihatinan bersama karena wabah dunia, upacara tetap berjalan tertib, lancar, dan hikmat yang dimulai sejak pukul 07.00 hingga pukul 08.00 WIB di lapangan upacara sekolah.

Semoga pandemi Covid-19 ini segera mereda sehingga proses Kegiatan Belajar Mengajar dapat dilaksanakan secara luring atau tatap muka seperti sedia kala. (red)

Kartini Masa Kini: Berani Berkarya dari Rumah di Kala Pandemi

(1/5) Hari Kartini yang setiap tahun jatuh pada tanggal 21 April ini diperingati dalam rangka hari lahir Ibu Kartini, yang dikenal sebagai seorang pahlawan nasional yang memperjuangkan hak-hak dan suara wanita. Biasanya dirayakan dengan cara memakai baju adat atau pakaian kebaya untuk perempuan, dan batik untuk laki-laki. Biasanya pula peringatan ini dimulai dengan melaksanakan apel pagi dan dilanjutkan parade keliling mengenakan baju adat.

Namun, pada tahun 2021 ini, Hari Kartini dirayakan sedikit berbeda. Tahun ini mungkin tidak dirayakan dengan rangkaian acara yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2021 ini, SMAN 10 Malang ikut meramaikan Hari Kartini dengan cara mengadakan beberapa topik lomba. Proses pembuatan karya pun dilakukan dari rumah, dan tentunya tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Lomba tersebut diantaranya adalah lomba pidato, lomba menulis essay, lomba kreativitas daur ulang sampah, lomba tiktok, dan lomba fotografi. Lomba ini diikuti oleh semua kelas dan masing-masing dari lomba tersebut, diambil 3 pemenang.

Salah satunya adalah lomba pidato yang juara 1-nya diraih oleh Theofillia Saras yang mengambil tema Born To Be A Wonderful Woman, atau yang dalam Bahasa Indonesia berarti Lahir Untuk Menjadi Seorang Wanita Luar Biasa. Ini menandakan bahwa Kartini Masa Kini dapat berkarya dari rumah sama baiknya seperti berkarya yang langsung terjun ke lapangan.

Karena sesungguhnya, Kartini bukan hanya satu orang yang memiliki lengkap Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat, melainkan adalah seluruh wanita hebat yang memperjuangkan mimpinya dan mampu beradaptasi dan melahirkan karya dimana saja.

Dengan semangat Raden Ajeng Kartini yang mengalir di darah wanita Indonesia, mari kita mematuhi protokol kesehatan demi mencegah penyebaran Covid-19, menuju generasi yang cerdas, sehat, dan cemerlang. (ymg)

Membanggakan, SMA Negeri 10 Malang Raih Medali Emas di Ajang National Science and Engineering Competition 2021

Berita gembira kembali datang mengharumkan nama sekolah untuk kesekian kalinya. Siswa SMA Negeri 10 Malang kembali menoreh prestasi di ajang kompetisi nasional. 5 tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) berhasil meraih posisi sebagai all finalist dengan karya penelitian yang cemerlang dan inovatif. Diantaranya tim pertama dengan karyanya ‘Edible Straw’ oleh Aaisyah Nursalsabiil dan Adinda Kristi sebagai pemanfaatan limbah ampas apel pengganti plastik. Lalu tim kedua dengan karya ‘Air Filter Scented Mask’ oleh Muhammad Arvian dan Gemelly Adillah sebagai inovasi masker kain 3 lapis dengan penambahan sekat udara, filtrasi dan aroma daun mint. Tak kalah dalam menciptakan produk yang kreatif, tim ketiga dengan karya ‘Nebulizer Clitoria ternatea’ oleh Revazaki Jauza dan Ittaqy Salma sebagai penelitian terhadap efektivitas teh Bunga Telang dan Nebulizer Tenaga Manusia. Berikutnya tim keempat dengan karya ‘Waste Cooking Oil Untuk Aromaterapi’ oleh Salisa Aminia dan Nandya Nur sebagai pemanfaatan minyak jelantah yang diolah menjadi padatan aromaterapi. Dan tim yang terakhir, tim kelima dengan karya ‘Hand Sanitizer Ocimum basilicum L. dan Aloe Vera’ oleh Nabilah Rizka dan Hashifa Nadhifatul sebagai pemanfaatan daun kemangi dan lidah buaya untuk menciptakan hand sanitizer alami.

Melakukan penelitian, perancangan karya, dan pengembangan produk mulai awal tahun 2021, serta tak luput dari bimbingan dan arahan Pak Rizki Nuri Setiawan selaku guru Biologi SMA Negeri 10 Malang. Kelima tim berhasil melewati babak penyisihan semi finalis dengan mengirim jurnal penelitian, dilanjutkan dengan mengunggah poster penelitian dan video presentasi di kanal youtube KIR SMA Regina Pacis Bogor. Setelah berhasil melewati tahap semifinalis, kelima tim berhasil melaju menuju posisi finalis dan mengikuti kegiatan presentasi via zoom selama 3 hari mulai 23 April 2021- 25 April 2021. Olimpiade ini membutuhkan perjuangan kurang lebih 4 bulan.

Perjuangan mereka nyatanya membuahkan hasil yang membanggakan, penelitian Revazaki Jauza dan Ittaqy Salma bertajuk ‘Efektivitas Teh Bunga Telang (Clitoria ternatea) dan Nebulizer Tenaga Manusia untuk Membantu Pernafasan Pasien Isolasi Mandiri Covid-19’ berhasil mencuri perhatian dewan juri dalam olimpiade nasional ini. Mereka membawa pulang medali emas pada ajang National Science and Engineering Competition (NSEC) 2021. Mereka berhasil bersaing dengan banyak tim dari berbagai kota di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Bogor, Samarinda, Pemalang, Depok. Selain itu prestasi lainnya disabet oleh Muhammad Arvian dan Gemelly Adillah yang berhasil mendapat posisi best video presenter dengan total 1841 views dan 425 likes/12 April. Prestasi ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa siswa SMA Negeri 10 Malang juga tidak kalah dalam bidang inovasi dan penelitian. (gya)

Meningkatkan Keimanan Melalui Pondok Kasih

            Pondok Kasih adalah kegiatan untuk siswa-siswi beragama Kristen dan Katolik di SMA Negeri 10 Malang. Pondok Kasih ini pelaksanaannya juga bersamaan dengan Pondok Ramadhan dan berlangsung selama tiga hari. Kegiatan Pondok Kasih ini biasanya menginap di suatu desa atau bisa disebut ret-ret. Tetapi, karena pandemi Covid-19 yang masih berlangsung maka, kegiatan Pondok Kasih ini diadakan secara daring.

            Pondok Kasih ini berlangsung dari hari Sabtu, 17 April 2021 dan Senin, 19 April 2021 hingga Selasa, 20 April 2021 dengan tema “Menjadi Remaja Beriman di Tengah Pandemi“

Maksud dari tema tersebut adalah, bagaimana kita sebagai remaja harus tetap beriman dan bertakwa kepada Tuhan walaupun sedang berada di masa pandemi yang pastinya membuat kita semakin merasa tidak bebas untuk melakukan sesuatu dan semuanya berpatok pada kecanggihan teknologi yang terkadang juga bisa memengaruhi kondisi mental, kesehatan, perubahan sikap, dan lain sebagainya.

            Hari pertama Pondok Kasih mengadakan acara webinar sesuai tema dengan pemateri Pdt. Frans Uktolseja M.Si yang sekarang melayani di GPIB Gloria, Maluhu-Tenggarong, Kalimantan Timur. Pertama, acara dibuka dengan sambutan dari Ibu Kepala Sekolah, Dr. Husnul Chotimah, M.Pd dilanjutkan dengan sambutan Ibu Dra. Menik Sri Suyatmi selaku guru agama Kristen dan dilanjutkan dengan doa pembuka. Lanjut ke acara inti yaitu, webinar oleh Pdt. Frans. Dalam webinar ini, beliau menyampaikan bahwa, kita sebagai remaja harus bisa mengendalikan diri dalam menggunakan teknologi, terlebih lagi harus selalu berhati-hati ketika muncul berita yang belum dipastikan kebenarannya. Beliau juga menyampaikan bagaimana kita harus bisa mengatasi tantangan-tantangan duniawi. Misalnya, kita harus menguasai teknologi, mendekatkan diri lagi kepada anggota keluarga, dan lain sebagainya. Tidak lupa, beliau juga mengingatkan agar kita tetap melaksanakan kewajiban kita yaitu beribadah setiap hari minggu dan membaca Alkitab. Di akhir acara, kami berdoa syafaat bersama yang dipimpin oleh Pdt. Frans.

            Hari kedua, kami mendengarkan renungan dari Pak Gerardus selaku guru agama Katolik. Pak Gerardus menyampaikan renungan yang bertema “Allah itu Kasih”. Dalam renungan tersebut disampaikan bahwa Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kekuatan manusia, Tuhan juga selalu mencukupkan kebutuhan kita dan kita tidak perlu khawatir. Sebagai manusia, kita juga harus saling mengasihi. Tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan dan harus membalas dengan kebaikan.

            Hari ketiga, hari terakhir pelaksanaan Pondok Kasih diisi dengan sharing atau cerita-cerita kondisi kami selama pandemi Covid-19 ini. Sharing ini diisi oleh guru-guru dari SMA Negeri 10 Malang dan beberapa peserta didik. Ada Bu Menik, Bu Haryati, Bu Anjas, Pak Gerardus, Pak Basuki dan Pak David yang menyampaikan pengalaman nya selama pandemi ini berlangsung. Pada saat sharing ini tidak hanya guru dan peserta didik dari SMA Negeri 10 saja. Karena Bu Menik juga mengajar di SMK Negeri 9 Malang. Maka,teman-teman dari SMK Negeri 9 Malang yang juga ikut bergabung dan menceritakan pengalaman mereka. Acara sharing ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Pak David.             Adanya kegiatan Pondok Kasih ini membuat kami yang rindu untuk berkumpul bersama dapat terobati meskipun melalui media online atau daring. Sangat menyenangkan saat mendegarkan cerita dari guru-guru dan teman-teman. Kami dapat mengetahui kesulitan masing-masing hingga pergumulan yang ada. Masing-masing dari kami pun juga berharap pandemi ini dapat segera berakhir dan kami bisa secepatnya bertemu dan berkumpul untuk mengadakan persekutuan bersama. (Nathania Michelle)