Bandung, dan yang Telah Pergi

Buah karya : Fawnia Elma H.

Kota Bandung. Mungkin beberapa dari kalian membayangkan kota romantis dan penuh dengan kenangan indah, nyatanya hal itu tidak terjadi kepada Kiara, gadis berparas cantik yang telah menetap di Bandung selama kurang lebih 4 tahun bersama neneknya ini malah menganggap Bandung adalah kota yang telah merenggut semua kebahagiannya selama ini.

Berawal dari 2 tahun yang lalu saat pandemi baru saja dimulai, ia berkenalan dengan sosok lelaki bertubuh jangkung yang memiliki suara indah dan menenangkan siapapun yang mendengarnya. Berawal dari teman di Sekolah hingga sering menghabiskan waktu bersama kala bosan membuat mereka semakin dekat dan mulai bersahabat.

Namun ada hal yang tidak di ketahui oleh Kiara tentang sahabatnya tersebut—Ragen, ia tidak tahu tentang keluarganya, kehidupannya, yang ia tahu selama ini hanyalah keceriaan yang selalu terpancar dalam dirinya. Kisah ini di mulai pada Sabtu malam di Kota Bandung yang dingin.

***

Langit semakin gelap dan udara semakin dingin di Bandung. Bukannya kembali untuk pulang, dua remaja ini malah melanjutkan perjalanan mereka yang entah akan kemana tersebut, hanya berjalan di tepian Kota sambil sesekali mengobrol dan tertawa. Mereka berdua—Kiara dan Ragen memang memiliki kebiasaan yang sudah mereka lakukan sejak pandemi ini ada, yaitu berkeliling Kota Bandung setiap Sabtu malam.

“Gamau pulang? Udah malem.” Ucap Ragen dengan suara berat khas darinya tersebut, sedari tadi lelaki itu memang hanya diam sambil menyimak apapun yang diucapkan oleh gadis di sampingnya tanpa banyak berbicara. Kiara hanya merespon dengan gelengan kepala sebelum akhirnya membuka suara.

“Masih males, lagian biasanya juga sampai malem gapapa gitu. Kamu keburu pulang? Dicariin? Atau lagi gaenak badan?” Respon Kiara dengan pertanyaan yang membombardir Ragen. Lelaki di sampingnya tersebut hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh karena merasa lucu dengan tingkah Kiara ketika mengomel.

“Mau ke warkop langgananku sama anak-anak ngga?” Ajak Ragen yang hanya di respon anggukan penuh semangat oleh Kiara seperti anak kecil yang akan diajak pergi bermain mandi bola.

Meskipun umur  Kiara dan Ragen hanya berbeda beberapa bulan saja, namun mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Kiara dengan sifat manja dan kekanak-kanakannya yang selalu bergantung pada Ragen, dan sifat Ragen yang mandiri dan dapat mengayomi teman perempuannya tersebut.

Perjalanan dari tempat mereka saat ini ke warkop langganan Ragen tidaklah terlalu jauh, hanya memakan waktu selama 10 menit dengan berjalan kaki. Warkop tidak terlihat begitu ramai, selain karena adanya pandemi ini juga karena teman Ragen yang mulai jarang ke warkop tersebut.

Hanya memesan kopi instan, mereka menghabiskan waktu di warkop dengan obrolan-obrolan random, diantarnya adalah kilas balik saat mereka masih SMP.

“Kamu inget waktu kelas 9 kita hujan-hujanan terus besoknya kita sama-sama gamasuk itu ga si, yang aku sakit. Tapi gatau kamu kemana.” Cerita Kiara memulai pembicaraan.

Ragen sesekali juga bercerita namun lebih banyak mendengarkan gadis yang duduk di seberang meja. Karena Kiara yang mulai lelah berbicara, gadis itu hanya diam sambil menyeruput kopinya yang tinggal setengah.

“Kalau seumpama aku gaada… Kamu bakal sedih ngga, Ra?” Tanya Ragen yang membuat Kiara terkejut hingga reflek menatap lelaki di hadapannya tersebut dengan tatapan heran.

“Kenapa tanya gitu? Kamu mau kemana emang?” Tanya Kiara dengan wajah khawatir. Ragen hanya menggelengkan kepala sambil tangannya ia kibaskan tanda agar ucapannya tadi segera dilupakan.

Mereka kembali hening karena tidak ada obrolan lagi, hingga kemudian Ragen mengeluarkan lipatan kertas dari saku jaketnya lalu di sodorkan kertas itu di hadapan Kiara. Gadis itu hanya menaikkan satu alisnya seakan bertanya “Buat apa?”

“Buka aja, tapi nanti, jangan sekarang.” Balas Ragen sambil terkekeh.

“Mau aku nyanyiin ngga? Mumpung ada gitar, disitu.” Anggukan  Kiara membuat Ragen berjalan ke arah meja kasir tempat dimana gitarnya diletakkan.

Ragen mulai menyanyikan kata demi kata dari lirik lagunya dengan jari yang lihai memainkan senar gitarnya. Kiara hanya menonton dengan mata berbinar karena apa yang dinyanyikan oleh teman dihadapannya ini adalah lagu kesukaannya yang berjudul Hati hati di jalan milik penyanyi Indonesia Tulus.

Kukira kita akan bersama

Begitu banyak yang sama

Latarmu dan latarku

Kukira takkan ada kendala

Kukira ini kan mudah

Kau aku jadi kita

Kukira kita akan bersama

Hati-hati di jalan

Pengunjung warkop yang hanya segelintir orang juga ikut menikmati nyanyian Ragen, setelah Ragen selesai bernyanyi Kiara memberikan tepuk tangan penuh semangat seakan sangat bangga dengan lelaki dihadapannya ini.

“Udah, ayo pulang. Udah malem.” Ajak Ragen sambil berjalan untuk mengembalikan gitar di samping meja kasir, berniat sekaligus akan membayar pesanan mereka. Kiara hanya mengangguk sambil mengekori Ragen di belakangnya.

Malam ini—saat perjalanan pulang hanya ada suara deruan angin dan motor yang sesekali berlalu lalang. Malam di Bandung memang sangat dingin, namun juga menenangkan, kata Kiara, itulah kenapa ia sangat suka jika diajak jalan sore sampai malam oleh Ragen seperti ini.

Tidak lama mereka berdua sudah sampai di depan rumah Kiara, setelah berpamitan sekaligus mengucapkan terima kasih untuk hari ini, Kiara masuk ke pelataran rumahnya sambil sesekali berbalik badan hanya untuk sekadar memberikan lambaian tangan kepada lelaki yang masih berdiri di depan pagar, menunggu gadis itu menghilang dibalik pintu rumah.

****

Setelah masuk ke rumahnya Kiara langsung membersihkan diri lalu segera tidur karena menurutnya hari ini cukup melelahkan.

Barulah saat pagi ia baru sempat membaca surat dari Ragen, yang di dapatkan dari lelaki itu di warkop semalam.

Untuk Kiara.

Halo Ra, kayaknya kalau aku tiba-tiba kasih surat gini kerasa aneh banget ya? Tapi ada hal yang pingin aku kasih tau ke kamu.

Maaf  kalau selama ini aku selalu bikin susah kamu, selalu bikin khawatir kamu, selalu ngerepotin kamu, maaf juga kalau aku jarang bisa dihubungi. Mungkin setelah ini kamu gabisa ngehubungi aku lagi. Maaf ya.

Terima kasih juga udah jadi orang pertama yang selalu nanyain kabar aku diwaktu semua orang gaada yang peduli. Tapi maaf, selama ini aku bohong soal bilang aku gapapa, aku baik-baik aja. Maaf juga aku selalu alasan setiap kamu mau kerumahku, aku cuman ga pingin ada orang yang lihat buruknya rumahku. Termasuk kamu.

Kamu gaada salah kok ke aku, kamu orang baik yang pernah aku temui, tapi inget selalu baik ke diri kamu juga ya, oh ya, jangan ngerasa gaada yang sayang sama kamu. Banyak yang sayang sama kamu, Ra. Termasuk aku salah satunya.

Be happy ya cantik. See you again in another life.

Ragen Wataru

Bandung, 5 Februari 2021

Kiara masih tertegun dengan surat dari Ragen, setelah membaca surat tersebut neneknya memanggil dari arah ruang keluarga, dengan langkah cepat Kiara segera ke arah neneknya. Sesampainya di ruang keluarga neneknya tersebut menunjuk berita yang sedang di liput di televisi.

Remaja berusia 18 tahun ditemukan tewas di salah satu kamar hotel daerah Bandung, polisi berspekulasi korban overdosis obat-obatan

Polisi mengidentifikasi korban berinisial R W

Nenek Kiara membuka suara sambil masih menata makanan di atas meja makan, “Kasihan, masih muda, masih se kamu lho dia.”

Sesaat setelah Kiara melihat berita tersebut, lututnya terasa sangat lemas bahkan ia sampai tidak kuat untuk menopang dirinya. Bagaimana tidak, ia begitu terkejut mengetahui fakta jika pertemuannya dengan Ragen semalam adalah pertemuan terakhirnya, nyanyian dari sang lelaki terakhir kalinya, sekaligus obrolan ringan untuk terakhir kalinya juga.

Tangisan gadis itu pecah. Neneknya yang tidak mengerti kenapa cucunya tersebut menangis hanya bisa mengusap punggung bergetar cucunya sambil mencoba bertanya. Setelah di jelaskan oleh Kiara dengan tangisan yang masih pecah, barulah sang nenek paham ada yang dirasakan cucunya. Lagi-lagi neneknya yang berada di sebelahnya hanya dapat mengusap bahu Kiara berharap cucunya tersebut dapat merasa tenang dengan apa yang sudah cucunya alami.

Pertemanan yang sudah terjalin selama 2 tahun, sebagai sosok penting yang selalu ada di sisinya harus berakhir tragis dengan sang gadis ditinggalkan bersamaan dengan segala kenangan yang tidak akan pernah terlupakan dalam hati ataupun pikirannya.

Namun pada akhirnya sosok terbaik yang pernah Kiara temui tersebut dapat bebas, tidak memikirkan apapun yang membuatnya sakit ataupun yang membuatnya merasa terbebani.

Kiara teringat dengan perkataan Ragen dulu “Apakah aku harus pergi jauh terlebih dahulu agar bisa mendapatkan kasih sayang?” Nyatanya tidak perlu sampai terjadi hal seprti ini Kiara sudah menyayanginya, semua orang menyayanginya, namun nyatanya Tuhan lebih menyayangi Ragen. Tidak, Ragen lah yang lebih ingin menemui Tuhan terlebih  dahulu.

****

Sudah hampir 1 tahun Kiara ditinggal oleh Ragen, kini ia berencana untuk pergi ke makamnya tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 19 tahun, sambil membawa buket bunga yang tersusun indah dan rapi, Kiara pergi memasuki area pemakaman umum di daerah Bandung.

“Halo, apa kabar? Semoga baik-baik aja di sana ya. Oh ya, selamat ulang tahunmeski tidak lagi panjang umur Ragen.” Sapa Kiara sambil berjongkok di pinggir batu nisan bernama Ragen Wataru tersebut. Kiara hanya datang untuk mendoakan sambil berbicara kecil, meski ia sadar apa yang ia katakan tidak mungkin di respon oleh seorang yang saat ini sudah tidak ada di dunia tersebut.

“Aku mau ngasih tau, aku udah mulai ngga nangis lho kalo cerita soal kamu, aku jjuga sudah berani ke warkop sendirian, ya walaupun rasanya beda.” Kiara mulai bercerita lagi, hingga ia tidak sadar langit mulai berubah menggelap karena sekumpulan awan hitam. Mau tidak mau gadis tersebut harus segera pulang sebelum nantinya akan terguyur hujan.

“Aku pulang dulu ya, Gen. Nanti kalau ada waktu aku bakal kesini lagi sambil bawain bunga kesukaan kamu.” Pamit Kiara sebelum berdiri untuk menginggalkan pelataran makam tersebut.

Diperjalanan pulang Kiara hanya menatap kosong jalanan yang sedang lenggang saat ini, namun ada perasaan tenang juga setelah mencurahkan pikirannya pada saat ke makam sahabatnya tadi.

Masih ada rasa sedih tentunya bagi Kiara, namun mau bagaimanapun juga ia harus kuat karena ia yakin ia pasti bisa melewati ini semua dan mulai terbiasa dengan keadaan. Bagi Kiara hidup ini adalah tentang menerima dan merelakan segalanya, menerima hal baik dan merelakan hal buruk, itulah kenapa Kiara masih mampu tegar dan mencoba mengihlaskan Ragen sampai sekarang.

Lagi pula kehidupannya tidak hanya berputar pada kesedihan akan ditinggalnya Ragen, ia dapat menemukan orang-orang baru dan membuka kenangan baru tanpa harus melupakan kenangan tentangnya dan Ragen.

Cerpen: Bandung, dan yang Telah Pergi

Leave a Reply

Your email address will not be published.